FORMULIR & PENJELASAN FIQIH ZAKAT FITRAH

FORMULIR FIKIH ZAKAT FITRAH

Nomor: __________________

Isian Sekaligus Panduan

bagi Panitia dan Pemberi Zakat Fitrah untuk Memenuhi Kriteria Fikih

Bismillahirrahmanirrahim

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                          : ………………………………

Alamat                        : ……………………………….

RT/ RW                       : ……………………………….

No HP                         : ……………………………….

Sebagai Pihak I, menyatakan dengan sesungguhnya, dengan niat tulus semata-mata mengharap Allah, bermaksud mengeluarkan Zakat Fitrah melalui Panitia Zakat Fitrah Masjid/Mushalla/Instansi (*) _________________ sebagai Pihak II.

Berkaitan dengan hal tersebut, saya menyatakan, sekaligus memohon dibimbing untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut.

1. Seputar Niat Zakat

    1.1 Telah berupa Beras (Makanan Pokok)

           a. Untuk dirinya sendiri

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنْ نَفْسِي فَرْضاً للهِ تَعَالَى

“Saya niat mengeluarkan Zakat Fitrah saya, fardhu, karena Allah Ta’ala.”

            b. Untuk orang lain yang wajib dia nafkahi (misal :                  istri dan anak yang belum baligh)

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنْ ……….. فَرْضاً للهِ تَعَالَى

“Saya niat mengeluarkan Zakat Fitrah untuk …… (sebutkan yang dimaksud), fardhu, karena Allah Ta’ala.”

             c. Untuk orang lain yang tidak wajib dia nafkahi                       (misal : anak yang sudah baligh, atau orang                           yang mewakilkan padanya untuk meniatkan                         Zakat Fitrah)

“Saya niat mengeluarkan Zakat Fitrah untuk …… (sebutkan yang dimaksud) yang telah mewakilkan kepada saya untuk meniatkan Zakat Fitrahnya, fardhu, karena Allah Ta’ala.”

Keterangan: Seorang ayah harus memberi tahu atau minta izin pada anaknya yang sudah baligh dengan tujuan apabila beras tersebut milik orang tua (mu’addi), maka anak tersebut diberi tahu untuk berniat zakat sendiri (teks niatnya sama dengan point a), atau dia boleh mewakilkan niat pada ayahnya tersebut, kemudian orang tua berniat seperti pada poin c (tentang perwakilan atau taukil dijelaskan pada poin berikutnya).

     1.2 Masih berupa uang (poin ini dilafalkan oleh Pihak I dan Pihak II)

Pihak I (Muzakki, Muwakkil): Saya menyerahkan uang

sejumlah: Rp. ………….

kepada panitia sebagai wakil,

untuk dibelikan beras sejumlah _______ buah  paket Zakat Fitrah masing-

masing seberat _____ Kg

untuk Zakat Fitrah saya dan

orang-orang yang menjadi tanggungan saya/orang yang wajib saya nafkahi,

yaitu:

1.      ………………………………..

2.      ………………………………..

3.      ………………………………..

4.      ………………………………..

dan seterusnya.

Selanjutnya, saya mewakilkan kepada panitia untuk meniatkan Zakat Fitrah untuk diri saya dan orang-orang yang menjadi tanggungan saya itu.

Pihak II (Panitia, Wakil):

 

Saya terima penyerahan dan perwakilan sesuai ketentuan tersebut.

Keterangan :

  • Panitia sebagai wakil membelikan beras kepada pihak tertentu, bukan diambilkan dari beras hasil pengumpuan Zakat Fitrah, karena dia tidak ikut memiliki beras itu dan dapat dinilai melanggar amanah yang disampaikan kepadanya (yaitu untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat, bukan untuk menjualnya).
  • Setelah dibelikan beras, panitia sebagai wakil melakukan niat dengan teks pada poin C.
  • Dengan mempertimbangkan sedikit “kerumitan” yang ditemukan dalam prakteknya ini, lebih baik panitia sejak awal telah memberikan sosialisasi bahwa panitia tidak menerima penyerahan Zakat Fitrah kecuali sudah dalam bentuk makanan pokok (beras)

2. BIaya Operasional Panitia

Guna biaya operasional dan kegiatan panitia Zakat Fitrah, saya menyumbangkan uang sejumlah Rp. ____________________ Apabila terdapat kelebihan uang saya memberikan izin untuk dipergunakan guna keperluan baik lain sesuai kebijakan panitia.

 3. Doa terkait Zakat (agar Panitia Zakat Fitrah membimbing Pemberi Zakat Fitrah dan membaca doa ini )                 

a. Doa oleh Pemberi Zakat (atau dibimbing oleh panitia)

اللّهُمَّ اجْعَلْهَا مَغْنَمًا وَلاَ تَجْعَلْهَا مَغْرَمًا

“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan yang menguntungkan dan jangan jadikanlah ia pemberian yang merugikan.”

b. Doa oleh Penerima Zakat (dibaca oleh Panitia)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. آجَرَكَ الله ُفِيْمَا أَعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْرًا وَ بَارَكَ لَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ. وَ صَلَّى الله عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ. وَاْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah rahmat serta salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabatnya seluruhnya. Semoga Allah melimpahkan pahala kepadamu dalam harta yang telah engkau berikan (sedekahkan) dan semoga Allah menjadikan harta tersebut mensucikan dirimu serta semoga Allah melimpahkan keberkahan darimu dalam harta yang masih tetap ada padamu dan semoga limpahan rohmat serta salam atas Nabi Muhammad, keluarganya serta sahabatnya seluruhnya. Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Demikian formulir Fikih Zakat ini, yang berisi isian dan panduan niat, wakalah, dan hal-hal terkait, demi keabsahan dan keberkahan ibadah kami, amin.

____________, _________________ 2018

Pihak I                            Pihak II

Pemberi Zakat                Panitia / wakil

 

 (                       )             (                    )

(*) Coret yang tidak perlu

 

 

PENJELASAN FIKIH

TENTANG POIN-POIN PADA FORMULIR FIKIH ZAKAT FITRAH

  • Tentang Identitas, termasuk Alamat (RT/RW) Muzakki
  1. Menurut madzhab Syafi’i, zakat fitrah diwajibkan atas mereka yang pada saat siang dan malam hari raya (siang tanggal 1 Syawal dan malam tanggal 2 Syawal), mempunyai kelebihan dari kebutuhan sandang, pangan, dan papan untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, serta mempunyai kelebihan harta dari tanggungan hutang, meskipun belum jatuh tempo (menurut Imam Ibnu Hajar). Oleh karenanya, sangat dimungkinkan fakir miskin yang berhak menerima zakat karena tergolong mustahiq, pada sisi lain juga wajib menunaikan zakat fitrah disebabkan pada malam tanggal 1 syawal (malam Idul Fitri) memiliki harta yang melebihi untuk kebutuhan sandang pangan dan papan untuk siang dan malam hari raya (siang tanggal 1 syawal dan malam tanggal 2 Syawal) saja. (I’anatu al-Thalibin, juz 2, hal.172)
  2. Panitia zakat dalam membagikan zakat fitrah yang terkumpul harus memeperhatikan cara distribusi zakat agar jangan sampai zakat yang terkumpul disalurkan kepada pemberi zakat sehingga kembali kepada pemiliknya. Oleh karenanya, hendaknya panitia zakat memberi tanda khusus untuk setiap zakat yang diterima agar diketahui dari siapa zakat tersebut berasal sehingga tidak terjadi pemberian zakat kepada pemiliknya, atau zakat fitrah disalurkan kepada masyarakat di tempat lain sekira tidak mungkin kembali kepada pemiliknya. (Muhibbul Aman Aly, Fikih Zakat Fitrah, hal 7-8
  3. Solusinya dapat pula dengan cara, panita mengelompokkan perolehan zakat tiap RT dalam satu tempat. Lalu perolehan zakat dari suatu RT tidak didistribusikan ke penerima atau mustahiq di wilayah RT tersebut, namun ke mustahiq zakat yang ada di RT lain, agar zakat seseorang tidak kembali diberikan kepada yang bersangkutan sendiri.
  • Antara Amil dan Panitia Zakat
  1. Amil Zakat adalah orang yang diperkerjakan oleh imam untuk mengambil zakat kemudian membagikannya kepada para mustakhiq zakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Alloh SWT dalam Al-Qur’an.

العَامِلُ هُوَ الَّذِي اسْتَعْمَلَهُ اْلإِمَامُ عَلَى أَخْذِ الزَّكَوَاتِ لِيَدْفَعَهَا إِلَى مُسْتَحِقِّيْهَا كَمَا أَمَرَهُ اللّـهُ تَعَالَى.

  1. Perorangan, kelompok, lembaga di tengah masyarakat yang membuat amil Zakat, maka tidak sah sebab tidak diangkat oleh imam (pemerintah). Dia tidak dinamakan sebagai Amil, namun “Panitia Zakat” yang tidak boleh mengambil bagian dari zakat fitrah, sebab tidak termasuk delapan golongan yang disebut di dalam QS. At Taubah 60.
  2. Dalam Ahkamul Fuqaha’ keputusan Nomor 286 dinyatakan: Panitia pembagian zakat yang ada pada waktu ini, tidak termasuk amil zakat menurut agama islam, sebab mereka tidak diangkat oleh imam atau kepala negara. (Solusi Hukum Islam Keputusan Mu’tamar, Munas NU, hal. 294-295)
  3. Panitia zakat posisinya sebagai wakil (orang yang diberi wewenang menyampaikan zakat fitrah) dari muzakki (orang yang berzakat) yang disebut “Muwakkil,” oleh karena adanya wakalah. Panitia tidak boleh sama sekali mengambil, menjual beras zakat fitrah. Tetapi harus menyampaikan benar-benar kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat fitrah).
  4. Agar zakat fitrah ini bisa sampai pada mustahiqnya maka syarat-syarat amil, lebih baik juga dipenuhi oleh para panitia zakat yaitu antara lain: (a) Mengerti masalah zakat yang dipercayakan padanya; (b) Seorang Muslim, (c) Mukallaf; (d) Merdeka; (e) Adil; (f) Mendengar/Tidak Tuli; (g) Melihat/Tidak Buta; (h) Laki-laki, karena amil adalah bagian dari pemimpin. (Anwarul Masalik, hal. 114)
  5. Sekalipun panitia bukanlah amil, tetapi kerjanya tidak ada bedanya dengan amil maka pantaslah panitia mendapatkan apresiasi, sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

يَقُوْلُ صَلّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ العَامِلُ عَلَى الصَّدَقَةِ بِالْحَقِّ لِوَجْهِ اللهِ تَعاَلَى كَالْغَازِ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ (رواه أحمد)

“Nabi Muhammad saw bersabda, Amil zakat dengan cara yang benar (menurut agama) karena Allah SWT semata, Pahalanya seperti orang yang berperang menegakkan agama Alloh, sehingga ia kembali ke keluarganya.” (Syaraful Umatil Muhammadiyyah)

Dalam hadits lain disebutkan:

يَقُوْلُ صَلّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إَنَّهُ سَتُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مَشَارِقُ اْلأَرْضِ وَ مَغَارِبُهَا وَ إِنَّ عُمَّالَهَا فِي النَّارِ إِلاَّ مَنِ اتَّقَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ وَ أَدَّى اْلأَمَانَةَ.

“Sesungguhnya akan dibukakan untuk kalian dunia timur dan dunia barat dan sesungguhnya para amil akan masuk ke neraka kecuali mereka yang bertaqwa kepada Alloh SWT dan menyampaikan amanat.”

(lihat: Athoillah Wijayanto, Zakat Fitrah dan Permasalahannya, hal 13-14)

  • Tentang Niat
  1. Niat zakat hukumnya wajib, guna membedakan antara zakat wajib dengan shadaqah sunnah. Waktu niat ada 3, yaitu : (1) Ketika orang yang mengeluarkan zakat menyerahkan secara langsung kepada penerima zakat, (2) Ketika orang yang mengeluarkan zakat menyerahkan kepada wakil, atau kepada panitia, atau kepada amil (Boleh juga seseorang menyerahkan urusan niat ini pada orang lain sebagai wakilnya), (3) Sebelum zakat dibayarkan pada si penerima atau sebelum diserahkan pada seorang wakil, dengan syarat: harta yang akan dizakatkan sudah ditentukan dan dipisahkan dari hartanya yang lain. (Faris Khoirul Anam, Fikih Praktis, hal. 103)
  1. Ketika panitia mulai menarik beras zakat fitrah, atau terdapat orang yang datang membawa beras zakat fitrah, maka dia ditanya terlebih dahulu zakatnya itu sudah diniati atau belum. Bila belum, ia dibimbing oleh panitia untuk melakukan niat. Hal ini karena keabsahan suatu ibadah salah satunya tergantung pada keabsahan niat.
  • Tentang Kadar Zakat Fitrah
  1. Kadar zakat fitrah yang harus ditunaikan adalah satu sha dari makanan pokok (beras putih) atau setara dengan 2,720 Kg beras putih. Demikian menurut hasil konversi KH. Muhammad Ma’shum bin Ali. Menurut hasil konversi lain yang disebutkan dalam kitab Mukhtashar Tasyyid al-Bunyan, satu sha’ setara dengan 2,5 kg. (Mukhtashar Tasyyid al-Bunyan, 205)
  2. Untuk lebih hati-hati demi menjaga keabsahan zakat fitrah, sebaiknya kadar zakat fitrah yang dikeluarkan digenapkan menjadi 3 Kg beras putih (Muhibbul Aman Aly, Fikih Zakat Fitrah, 4).
  • Tentang Zakatnya Orang-Orang yang Wajib Dinafkahi
  1. Zakat Fitrah wajib atas setiap orang Islam yang merdeka, memiliki makanan cukup untuk siang hari raya dan malamnya, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang masih kecil (bayi, belum baligh, dan sebagainya) atau yang sudah besar/tua.
  2. Jika seorang suami tidak mampu mengeluarkan zakat fitrah bagi istrinya, maka dia tidak wajib membayarkan zakat istrinya tersebut. Sang istri juga tidak wajib membayar zakat untuk dirinya sendiri, namun tetap dianjurkan baginya untuk berzakat.
  3. Jika seorang ayah sudah tidak wajib lagi menafkahi anaknya, misal karena anaknya sudah baligh, maka sang ayah tersebut tidak sah jika mengeluarkan zakat anaknya, kecuali jika sang anak sudah memberi ijin. Adapun anak yang belum baligh, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, demikian juga istri dan seluruh orang yang wajib dinafkahi, tidak disyaratkan untuk minta ijin ketika akan mengeluarkan zakat mereka. (Faris Khoirul Anam, Fikih Praktis, hal 102)
  4. Yang dimaksud dengan orang yang wajib dinafkahi adalah:
  5. Anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya pada siang dan malam hari raya. (Mawhibatu dzi al-Fadhl, jilid 5 hal. 273)
  6. Anak yang sudah baligh dan tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya pada siang dan malam hari raya dan secara fisik tidak mampu bekerja yang layak, seperti lumpuh, idiot.
  7. Orang tua, kakek, nenek dan seterusnya, yang tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya pada siang dan malam hari raya
  8. Istri yang sah.
  9. Istri yang sudah ditalak raj’i, yakni istri yang pernah dikumpuli dan tertalak satu atau dua yang masih dalam masa ‘iddah.
  10. Istri yang ditalak tiga (ba’in) dan dalam keadaan hamil mengandung anak suami. (Muhibbul Aman Aly, Fikih Zakat Fitrah, hal. 3)
  • Tentang Shadaqah
  1. Dana operasional panitia tidak diambilkan dari beras zakat fitrah, atau dana masjid (ketika panitia berada di masjid) tetapi diusahakan dari shadaqah biasa, yang memang kita minta akadnya untuk kemaslahatan, operasional dan kelancaran aktifitas panitia zakat. Lalu apabila terdapat kelebihan dari dana tersebut, panitia telah meminta izin kepada pembayar zakat untuk dipergunakan keperluan yang baik sesuai kebijaksanaan panitia.
  2. Praktek sebagian panitia yang mengambil sebagian beras zakat fitrah yang belum dibagikan ke mustahiq, dengan cara menjualnya kemudian digunakan untuk konsumsi panitia, membeli plastik kresek, dan sebagainya yang digunakan untuk kelancaran kegiatan panitia, atau mengambilnya untuk dijual kepada calon muzakki yang datang dengan hanya membawa uang, adalah bentuk pengkhianatan dan kezhaliman wakil atas barang yang dititipkan padanya. Hukumnya dosa dan ia wajib menggantinya. (Athoillah Wijayanto, Zakat Fitrah dan Permasalahannya, hal. 13)
  • Tentang Wakalah
  1. Apabila seorang muzakki datang kepada panitia yang tujuannya membayar zakat fitrah sedangkan dia membawa uang (tidak membawa beras), maka panitia harus memberi tahunya bahwa uang tersebut harus dibelikan beras terlebih dahulu sesuai yang biasa ia makan, kemudian diniatkan untuk zakat fitrah dan diserahkan kepada panitia.  (Athoillah Wijayanto, Zakat Fitrah dan Permasalahannya, hal. 15)
  1. Panitia dapat berinisiatif membelikan beras untuknya sesuai yang biasa ia makan atau panitia menyediakan beras yang kemudian dapat dibeli oleh muzakki dan sekaligus diniati di tempat itu. Sebab menurut madzhab Syafi’i zakat fitrah menggunakan uang (qimah) tidaklah sah. Sedangkan yang menganggap sah zakat fitrah dengan uang adalah Madzhab Hanafi dengan ukuran satu sha’ beras yang apabila dikonversikan ke hitungan kita yaitu 3,8 Kg. Sementara sebagian orang-orang yang bersikukuh zakat fitrah boleh dengan uang masih menggunakan ukuran sha’ madzhab Syafi’i yaitu 2,5 Kg. Dalam kitab Fathul Mu’in hal.50 disebutkan:

لاَ تُجْزِئُ قِيْمَةٌ وَلاَ مَعِيْبٌ وَلاَمُسَوِّسٌ وَمَبْلُوْلٌ

“Tidak mencukupi zakat fitrah dengan uang atau barang yang cacat, berulat dan basah”

  • Tentang Doa

Panitia zakat yang merupakan wakil dari muzakki setelah menerima barang zakat dapat mendoakan muzakki atau mustahiq yang telah menerima barang zakat. Bentuk do’anya adalah do’a yang sering dibaca dan diajarkan oleh imam Syafi’i tersebut di atas.

  • Keterangan Tambahan
  1. Menurut madzhab Syafi’i orang yang berhak menerima zakat fitrah tidak berbeda dengan orang yang berhak menerima zakat harta yaitu 8 golongan (ashnâf) sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (التوبة [9]: 60)

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah [9]: 60).

  1. Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Maliki, zakat fitrah hanya dapat diberikan kepada fakir miskin, bukan semua golongan (ashnaf) sebagaimana dalam zakat harta. Sebagian ulama madzhab Maliki berpendapat sama dengan madzhab Syafi’i, yakni golongan yang berhak menerima zakat fitrah, sama dengan golongan yang berhak menerima zakat harta. (Mawahibu al-Jalil fi Syarh Mukhtashar al-Syaikh Khalil, jilid 2 hal, 376-377)
  2. Oleh karenanya, jika menyerahkan zakat fitrah atas nama golongan selain fakir miskin, kepada ustadz, kiyai, muadzin dan lain-lain, hukumnya tidak sah menurut madzhab Syafi’i dan menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Maliki. Berbeda jika menyerahkan zakat kepada ustadz atau kiyai yang fakir atau miskin dengan atas nama fakir miskin karena pada kenyataannya ustadz atau kiyai tersebut fakir atau miskin, maka hukumnya sah menurut semua ulama. (Muhibbul Aman Aly, Fikih Zakat Fitrah, hal 6-7)

4. Syarat-syarat penerima zakat yang harus terpenuhi oleh 8 golongan / ashnaf :

  1. Islam, dengan demikian orang kafir tidak boleh menerima zakat, kecuali dia seorang ‘amil.
  2. Bukan orang kaya, kecuali dalam beberapa hal yang telah dijelaskan sebelumnya.
  3. Bukan orang yang telah dicukupi nafkahnya oleh orang yang wajib menafkahinya, seperti istri yang telah tercukupi oleh nafkah pemberian suaminya, atau seseorang yang telah tercukupi oleh nafkah pemberian kerabatnya.
  4. Bukan keturunan Bani Hasyim (anak cucu Sayyidina Abbas, Imam Ali, Aqil, Ja’far, dan Harits bin Abdul Mutthalib), dan bukan keturunan Mutthalib. Ini merupakan pendapat terkuat. Sebagian ulama memperbolehkan mereka menerima zakat jika mereka tidak menerima jatah khusus dari pemerintah Islam.Bukan orang yang mahjur ‘alaih (dihukum tidak boleh memegang uang karena bangkrut atau tidak bisa membelanjakan uang dengan baik, karena gila, idiot, atau terlalu menghambur-hamburkan uangnya). (Faris Khoirul Anam, Fikih Praktis, hal. 107-108
  5. Hukum Memindah Zakat. Tidak boleh memindah zakat dari daerah pembayar zakat ke daerah lain menurut pendapat terkuat dalam madzhab Syafi’i. Namun menurut Imam Ibnu Ujail, ada 3 hal yang difatwakan dalam madzhab Syafi’i, meski ketiganya bukan pendapat yang terkuat, yaitu: (a) Boleh menyerahkan zakat untuk satu golongan saja dari 8 golongan (yang tersebut di atas). (b) Boleh seseorang membayar zakat kepada satu orang saja dari salah satu golongan delapan. (c) Boleh memindahkan zakat dari tempatnya ke tempat lain, dengan diserahkan kepada orang-orang yang berhak di daerah lain. (Faris Khoirul Anam, Fikih Praktis, hal. 107-108)
  6. Tidak sah memberikan zakat fitrah kepada masjid, madrasah, pondok pesantren atau yayasan.

Menyerahkan zakat fitrah kepada anak yang belum baligh belum mencukupi selama belum diterima oleh walinya, sebab anak kecil tidak sah dalam serah terima zakat (qabdl).

Iklan

Satu tanggapan untuk “FORMULIR & PENJELASAN FIQIH ZAKAT FITRAH”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s