Khutbah Idul Fitri 1439 H / 2018

PUASA DAN KESUCIAN PRIMORDIAL

Dr. H. ROIBIN, MHI

الله اكبر الله اكبر  الله اكبر

 الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر

  الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر

ولله الحمد  الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحن الله بكرة واصيلا

الحمد لله الذي جعل التقوي لباس الصالحين وجعل الدين رباظا بين قلوب المؤمنين

 وامرنا بالاتحاد والتعاون بين اخوتنا المسلمين ونهانا عن التفرق والتنازع في كتاب مبين

 الي اخره

Hadirin Sidang Jamaah Shalat Idul Fitri Yang dirahmati Oleh Allah SWT

Kini kita telah sampai pada momentum hari yang amat berbahagia yang telah kita tunggu-tunggu selama satu tahun penuh, yaitu hari raya Idul Fitri/ 1 Syawal 1439 H.

Hampir semalam suntuk kita telah mengomandangkan takbir, sebagai sebuah ekspresi bukti kecintaan kita sebagai manusia yang beriman kepada Allah SWT., dengan mengungkapkan kalimat kebesaran asma Allah SWT., الله اكبر  الله اكبر  الله اكبر ولله الحمد. Gemuruh suara takbir di masjid-masjid dan di pojok-pojok musolla nan jauh, yang terdengar sangat syahdu, haru, dan merdu, telah terakumulasi dan memadati atmosfir langit serta bergeliat ke seluruh hamparan bumi, hingga memanifestasi menjadi sebuah energi yang mampu menggugah kesadaran dan komitmen manusia yang terdalam bahwa yang maha besar hanyalah Allah SWT.

Dengan takbir berarti kita menyadari bahwa selain Allah adalah kecil dan tidak memiliki daya kekuatan apa-apa. Berarti pula momentum ini telah melahirkan kesadaran baru pada diri kita semua untuk menggeser perilaku yang sombong menjadi rendah diri, sikap dengki menjadi suka mencintai, praktik konflik dan kekerasan menjadi saling damai.

Lantunan takbir tanpa disadari telah berubah menjadi energi baru yang selalu berpihak pada kebaikan, kebenaran, keadilan, dan kasih sayang. Inilah makna takbir, yang pada hakikatnya adalah makna tauhid, yang berarti pengesaan terhadap Allah, berarti pula penyatuan terhadap Allah. Allah adalah waahidun yang berarti satu, tidak ada kekuatan lain yang bisa dijadikan untuk bersandar kecuali hanyalah Allah SWT., yang maha akbar. Penyatuan kepada Allah merefleksikan penyatuan kepada sesama manusia, dalam bentuk saling menghargai antar sesama manusia, saling mencintai di antara mereka, rukun dan damai di antara mereka. Di mata Allah mereka adalah sama, yang membedakan adalah tingkat ketaqwaan meraka kepada Allah SWT.

Hadirin Sidang Jamaah Shalat Idul Fitri Yang dirahmati Oleh Allah SWT

Baru saja di tempat ini, kita dan seluruh umat muslim telah melakukan kegiatan yang sama, yaitu shalat idul fitri, yang diliputi dengan perasaan haru dan suasana kesadaran spiritual yang mendalam. Kita bertakbir mengikuti simbol-simbol irama dan gerakan solat, setiap perpindahan gerakan solat selalu ditandai dengan ungkapan takbir. Seraya kita bersujud meletakkan dahi kita di atas tanah, dengan membaca tasbih dan tahmid kepada Allah, hal ini menggambarkan bahwa kita adalah sebagai makhluk jasmani dan rohani. kita diciptakan oleh Allah berasal dari tanah liat tempat kita bersujud, karenanya kita disebut sebagai mahkluk jasmani, sementara itu, kita juga bertasbih  dan bertahmid yang menandai sebagai wujud makhluk ruhani, karena kita telah berusaha untuk selalu mengingat ruh mulia Allah yang telah ditiupkan dalam diri manusia. Karena itu pulalah manusia menjadi mulia, bahkan malaikat pun diperintahkan Allah untuk tunduk kepada manusia dengan bersujud kepadanya.

Hadirin Sidang Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Berbahagia.

Hari ini disebut idul Fitri, berarti kembali kepada kesucian, kembali kepada asal kejadian manusia, bahwa ia adalah makhluk suci dan mulia, karenanya Allah memerintahkan malaikat bersujud kepadanya. Idul fitri berarti hari raya fitrah, hari raya kesucian manusia, disebut juga sebagai hari kembalinya kesucian kepada kita. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk suci, oleh karenanya semua manusia harus menjadikan kesucian sebagai kiblat perilakunya. Fitrah berhubungan dengan hanif, ia berarti sifat dalam diri manusia yang condong untuk memihak pada kebaikan dan kebenaran. Fitrah berhubungan dengan taqwa, dengan kembalinya kesucian pada diri manusia berarti ia telah memiliki kesadaran penuh bahwa Allah hadir dalam kehidupannya. Allah bersama kita.

Hadirin Sidang Jamaah Shalat Idul Fitri Yang Berbahagia.

Adanya kesadaran penuh pada diri manusia bahwa Allah telah hadir dalam kehidupannya, setidaknya melahirkan dua makna dalam kehidupan nyata;

  1. Memamntabkam kehidupan kita,
  2. Membimbing akhlak kita menjadi akhlak yang mulia,

Pertama: kesadaran penuh akan hadirnya Allah dalam kehidupan sehari-hari tentu telah menguatkan kemantapan hidup kita. Kita tidak akan pernah takut dan pesimis terhadap masa depan ekonomi, karir maupun nasib. Semua yang telah kita usahakan dengan semaksimal mungkin usaha kita, selanjutnya semuanya kita sandarkan kepada Allah.

حسبنا الله ونعم الوكيل, cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan dia adalah sebaik-baiknya tempat bersandar.

Kedua:Kesadaran penuh akan hadirnya Allah dalam kehidupan ini telah membimbing terahadap akhlak kita menjadi akhlak terpuji. Tidak mungkin manusia suci melakukan aktifitas yang tidak diperkenankan Allah, tidak dizinkan oleh Allah, lebih-lebih tidak diridhai oleh Allah. Aktifitas yang diridhoi oleh Allah adalah aktifitas yang senafas dan sinergi dengan hati nurani manusia. Relasi ridha Allah dan hati nurani manusia adalah shiratal mustaqim, aktitas yang selalu bertemu antara dua aspek “raadhiyatan wa mardhiyatan”. Sebagaimana dalam hadis Nabi yang menggambarkan tentang hati nurani.

الا وان في الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسدالجسد كله الا وهي القلب

“ingatlah bahwa didalam jasadmu terdapat segumpal daging, jika ia baik maka seluruh jasadmu akan baik, jika jelek maka seluruh jasad juga akan menjadi jelek. Ingatlah ia adalah hati nurani. Oleh karenanya ia adalah sebagai kiblat  dalam melakukan semua aktifitas manusia. Jika semua aktifitas manusia selalu menjadikan hati nurani sebagai barometernya, maka hidupnya akan berada dalam garis lurus, yaitu garis yang selamat dunia dan akhirat. Dengan demikian dengan menyadari sepenuhnya akan hadirnya allah dalam kehidupan maka aklak kita senantiasa terbimbing ke jalan yang lurus.

Rosulullah SAW bersabda dalam salah satu hadisnya.

البرما اطمئن اليه القلب واطمئنت اليه النفس والاثم ما حاك في القلب وتردد في الصدر

“Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hati dan jiwa menjadi tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang terasa tak karuan dalam hati dan terasa bimbang di dada.” (HR Ahmad).

Maksud dosa dalam hadis di atas adalah perilaku yang dirasakan bertolakbelakang dengan fitrah manusia, yaitu hati nurani manusia. Tindakan demikian yang dilakukan secara terus menerus akan menyebabkan terjadinya pergolakan dan kegaduan jiwa dan hati manusia.

Idul fitri adalah hari raya untuk merayakan kembalinya fitrah manusia, setelah lama menghilang dan berhasil diketemukan kembali. Media yang sangat berjasa untuk menemukan fitrah manusia yang telah lama menghilang adalah ibadah puasa di bulan suci Romadhan. Sebagaimana makna bahasanya bahwa al-shiyaam berarti al-imsaak yang berarti mencegah, mengendalikan. Berarti puasa adalah medium yang sangat strategis untuk melatih diri manusia melekukan pencegahan, pengendalian dan pengaturan jiwa manusia dari godaan-godaan nafsu, agar mereka terhindar dari keterpurukan dan kejatuhannya. Atas dasar itu, pada hakikatnya puasa bukan hanya mencegah, mengendalikan nafsu dari godaan-godaan biologis (makan, minum, serta hubungan seksual di siang hari), tetapi juga melatih untuk mengendalikan nafsu, baik pada masalah-masalah jasmani, nafsani, maupun ruhani. Oleh karena itu banyak ulama yang membuat peringkat kualitas puasa seseorang. Mereka yang hanya mampu mengendalikan jiwanya pada wilayah biologis/ fisik/ jasmani, maka puasa mereka masih berada pada level ibtida’i, sedangkan yang mempu memngendalikan jiwanya menuju perilaku yang terpuji dan menjauhi yang tercela mereka telah memasuki level tsanawi/ nafsani, sementara seseorang yang telah mampu mengelola dan mengendalikan jiwanya untuk melakukan kegiatan-kegiatan spiritual,  maka mereka telah memasuki peringkat tertinggi, yaitu peringkat al-‘aly/ ruhani.

Pahala puasa tidak terikat oleh sejauhmana seseorang itu merasakan lapar dan dahaga, namun demikian lebih terkait dengan apakah seseorang tersebut menjalankan puasanya didasari dengan iman dan ihtisaaban kepada Allah? Praktik puasa lebih ditekankan pada derajat keimanan dan kejelian instropeksi mendalam atas kualitas puasanya yang semata-mata hanya ingin mencari keridhaan dari Tuhannya. Itulah puasa yang sebenarnya, karena puasa adalah milik Allah dan Allahlah yang akan mengapresiasi pahalanya. Puasa adalah ibadah rahasia, yang tidak bisa ditampakkan karena manusia, tetapi puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh Allah dan diri orang yang berpuasa tersebut.

Oleh karena itu, kalau kita sedang berpuasa dan kebetulan lupa, lalu kita makan dan minum saat itu, maka Rosulullah justru menganjurkan kepada kita untuk mensyukuri kepada Allah yang telah memberikan makan dan minum, sedangkan puasa tetap diteruskan dan tidak batal. Argumen lain yang menunjukkan bahwa puasa itu tidak tergantung kepada urusan lapar dan dahaga adalah hadis Nabi yang berkaitan dengan anjuran menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur. Dengan kata lain semakin cepat kita berbuka puasa saat adzan magrib telah tiba, semakin banyak pahalanya. Sebaliknya, semakin mengakhirkan ibadah makan sahur hingga mendekati saat imsak, maka semakin besar pula pahalanya. Lebih dari itu rasul tetap menganjurkan kita makan sahur meskipun kita tidak nafsu makan dan merasa kenyang, karena menurut Beliau dalam sahur ada barakah.

Hal ini menggambarkan bahwa Allah tidak menghendaki hambanya yang menjalankan ibadah puasa merasa tersiksa fisiknya, dengan jalan tidak makan dan tidak minum. Semua mekanisme untuk menghindari lapar dan dahaga telah diatur sedemikian rupa oleh Allah dalam syariatnya, sehingga hambanya tidak merasa keberatan menjalankan ibadah puasa tersebut. Dengan demikian ajaran mendasar tentang puasa yang diharapkan oleh Allah adalah adanya kemampuan manusia untuk melatih mengendalikan jiwanya dari berbagai godaan-godaannya, baik dalam level fisik, psikis, maupun ruhaninya. Dengan kata lain pahala ibadah puasa sangat ditentukan sejauh mana usaha seseorang yang sungguh-sungguh dan menyeluruh untuk melatih dan mengendalikan jiwanya dari godaan-godaan. Melatih untuk tidak tergoda. Sebab kelemahan manusia adalah cenderung gagal untuk menahan diri. Dalam al-Quran banyak sekali penjelasan-penjelasan bahwa kelemahan mayoritas manusia adalah tidak mampu mengendalikan diri, dibuktikan oleh pandangannya yang selalu mengarah pada hal-hal jangka pendek atau duniawi.

كلا بل تحبون العاجلة وتدرون الاخرة

“Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kamu (hai manusia) cenderung mencintai kehidupan jangka pendek (dunia), dan meninggalkan kehidupan jangka panjang (akhirat).” (Q 75: 20-21).

Pada umumnya kita mudah tergoda, tatkala melihat hal-hal yang sepintas lalu menyenangkan dan menarik, lalu kita dekati dan kita ambil, tanpa memperhitungkan bahwa di belakang hari akan membawa malapetaka bagi dirinya. Dosa secara sederhana dapat diilustrasikan seperti itu. Sesuatu yang dalam jangka pendek membawa kesenangan, tetapi dalam jangka panjang akan membawa kehancuran. Ini dikarenakan dari efek kelemahan manusia yang tidak sanggup melihat akibat perbuatannya dalam jangka panjang, namun pada umumnya mereka lebih tertarik pada akibat-akibat jangka pendeknya. Jadi kelemahan manusia adalah mudah tergoda.

Hal ini sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Nabiyullah Adan AS dan istrinya.

وقلنا يا ادم اسكن انت وزوجك الجنة وكلا منها رغدا حيث شئتما ولاتقربا هذه الشجرة فتكونا من الظالمين

“Dan kami berfirman “ Hai Adam diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim.” (Q 2: 35).

Semuanya boleh dimakan dan dinikmati, yang dilarang oleh Allah hanya satu pohon larangan. Allah sudah membuat perjanjian, namun rupanya Adam dan istrinya lupa dan kurang teguh kemauannya. Digambarkan dalam al-Quran:

ولقد عهدنا الي ادم من قبل فنسي ولم نجد له عزما

“Dan sesungguhnya telah kami perintahkan kepada Adam sebelumnya maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak kami dapati padanya kemauan yanag kuat.” (Q 20: 115).

Akibatnya ia tergoda setan, dan kemudian melanggar larangan Allah, yaitu mendekati pohon terlarang. Dia pun akhirnya diusir oleh Allah dari surga bersama istrinya dengan cara tidak terhormat.

قا ل هبطا منها جميعا

“Allah berfirman “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.” (Q 20: 123

Ini adalah drama kosmis yang melambangkan karakteristik manusia. Bahwa kelemahan manusia yang dominan terletak pada ketidak sanggupannya untuk menahan diri dari dorongan keserakan yang berjangka pendek. Mengapa Adam masih melanggar larangan Tuhan, padahal ia sudah difasilitasi akan kebutuhan semuanya? Jawabnya adalah karena Adam serakah yang tidak pernah puas atas fasilitas yang ada. Itulah watak dasar manusia pertama yang telah menjelma ke dalam sifat dan karakteristik kita semua. Oleh karenanya Islam mengajarkan manusia untuk berpuasa, yaitu melatih mengendalikan diri dari godaan-godaan keserakahan jangka pendek (dunia).

Oleh sebab itu puasa tanpa terasa telah mendidik dan melatih pada seseorang untuk melakukan introspeksi diri (ihtisaaban) secara total. Sebetulnya siapa diri kita, dari mana asal kita, dan kemana akhir perjalanan kita. Diri kita, yang ketika berpakaian ihrom, pakaian putih-putih tanpa jahitan, melambangkan bentuk ketelanjangan kita di depan Tuhan, menggambarkan kita di depan tuhan tidak punya apa-apa, tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa apa-apa. Di depan tuhan kita merasa lemah, kecil, miskin, rendah dan tak berdaya. Kita tidak pernah punya perasaan sebagai orang baik dan tinggi derajatnya di mata Tuhan, terserah Tuhan untuk menilai kita, kita pasrah dan berserah diri akan kehendak tuhan setelah kita melakukan semua aktivitas. Hanya dengan istropeksi seperti itu, taubat kita akan diterima oleh Allah SWT, dan hanya dengan cara instropeksi seperti itu pula permohonan kita untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT akan dikabulkan oleh Allah SWT. Nah kalau kita melakukan instropeksi seperti itu, maka Nabi mengatakan semua dosa yang lalu akan dihapuskan oleh Allah SWT.

Dari sanalah keadaan kita menjadi suci/ fitrah, bagaikan kita baru dilahirkan dari kandungan seorang ibu. Itulah yang hari ini kita peringati dengan hari raya “idul Fitri”. Kembalinya fitrah, Kembalinya asal kesucian manusia, sebagaimana Allah telah menciptakan kita dahulu.

Kita renungkan semua itu, agar efek puasa kita ini betul-betul teralisasi dalam kehidupan riil di masyarakat.

Amin Ya Mujiibassailiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s